Kepercayaan

Sering saya jumpai transaksi bisnis di tempat-tempat penjualan elektronik baik yang terjadi di One Stop Shopping (Carrefour, Makro, dll) maupun Specialty Goods (Single Category Product). Dimana para pembeli meneliti dengan seksama barang yang mereka beli, dan menanyakan hal-hal secara mendetail.Dan akhirnya baru membeli, padahal kan ada garansi??? Apalgi kalo dipusat perbelanjaan barang-barang bekas.

Bagi yang pernah sekolah diluar negeri, mereka pasti merasakan, ketika mereka harus menandatangani seuatu, orang Indonesia (biasanya) tanda tangannya rumit dan mirip dengan coretan yang tidak jelas, hal ini bukan dianggap tanda tangan, karena yg di- recognized sebagai signature adalah tulisan yang dapat mengidentifikasikan nama kita. Bukan yang urek-urek ngak jelas dan sama sekali ngak nyambung dengan nama kita.

Atau pada transaksi bisnis yang membutuhkan jasa mediasi, jika tenaga mediasi datang dari pihak buyer, maka tenaga mediasi ini sulit untuk mendapatkan penawaran dan dokumen pendukung dari pihak seller, padahal, apalah sulitnya membuat Full Corporate Offer dan menyediakan dokumen pendukung??? Begitu pula sebaliknya, jika tenaga mediasi datang dari pihak seller, maka tenaga mediasi ini akan susah mendapatkan Surat Minat ataupun LOI (Letter of Intent). Yang terjadi adalah prasangka dan prasangka saja dan jangan, jangan….Kapan deal-nya man!!!

 Maklum kita diajarkan sama leluhur kita untuk tidak gampang percaya sama orang, sehingga pada waktu proses belajar membuat tanda tangan, pasti ada wejangan utk membuat tanda tangan yang sulit utk ditiru orang, atau adakalanya kita memiliki paradigma untuk membuat tanda tangan yang rumit sehingga susah ditiru orang.

Ini adalah Low Trust Society Syndrom, dimana rasa ketidakpercayaan melekat pada diri kita. Trust menurut Francis Fukuyama, adalah “the social virtues and the creation of prosperity.” Rasa percaya adalah suatu ikatan sosial yang penting untuk menciptakan kemakmuran. Sehingga dapat dimaklumi bahwa berbisnis di Indonesia membutuhkan perjuangan yang lebih berat dan complex. Dan ini juga terjadi di negara-negara miskin, waduh, Indonesia miskin ya (maaf).

Buyer dan seller menjaga kepentingannya masing-masing, seyogyanya bisnis adalah hubungan simbiosis mutualisme yang saling menjaga kepentingan bisnis kedua belah pihak. Sehingga budaya referensi atau katabelece marak terjadi di Indonesia, yang sebenarnya juga tidak menjamin keberhasilan bisnis. Jika trust tumbuh maka semua transaksi bisa dijalankan dengan lancar, jika ada satu pihak menipu maka tinggal kita serahkan ke aparat hukum, lalu diproses, setelah itu masalah selesai. Tapi ternyata tidak juga sedemikian mudah, hukum kita juga bisa dibeli. Terus bagaimana dong???

Satu-satunya jalan ya kembali pakai referensi, katabelece atau endorser. Hmmm…rumit sekali ya….Inilah makna kepercayaan. Setidaknya dengan kepercayaan kita setidaknya memperlancar proses transaksi bisnis dan membuka peluang tingkat keberhasilan dari bisnis itu sendiri dan sistem-sistem yang terkait didalamnya. Itikad ini setidaknya harus kita tumbuh kembangkan, guna memulai jalan baru menuju Prosperity.

2 Tanggapan

  1. Great …… ini baru bagus buat di sounding ke masyarakat “low trust society syndrome”. Mungkin juga ini salah satu faktor kenapa negara kita cenderung jalan di tempat. Thanks buat pencerahannya😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: