Hidup susah…Mau??? (Pikirkan dulu deh)

null

 

” Ya Alloh hidupkanlah aku dalam keadaan miskin dan matikan aku dalam keadaan miskin dan dipadang mahsyar kumpulkanlah aku bersama orang-orang miskin….!” Sepenggal do’a dari nabi besar Muhammad S.A.W.

Saya yakin, sebagian besar dari kita enggan untuk membaca do’a ini. bahkan mungkin kita membaca do’a agar dipermudah urusan dan dipermurah rezeki. Pernahkan kita berkaca dan membayangjkan menjadi miskin itu adalah kenikmatan duniawi dan kemanisan iman yang sesungguhnya.

Tulisan diatas, adalah petikan tulisan yang saya baca dari salah satu web site keimanan, maaf, hampura dan sorry nih, mungkin penulis lupa dengan hadist-hadist yang lain atau kontekstual dari makna hadist tersebut, sehingga seorang muslim seakan-akan identik dengan kemiskinan dan tidak ada perintah untuk berdaya upaya meraih dunia (kekayaan).

Hmmm….seakan-akan jalan kesurga demikian gampangnya….

Jadilah orang miskin, syukuri dan nikmati kemiskinan itu…Dapet deh ticket ke surga….???

Padahal kemiskinan juga mendekatkan kita ke neraka, dimana banyak orang miskin yang saking tidak berdayanya, mereka (tidak semua) rela menukarkan keimanan demi uang baik karena terpaksa (seperti: membiaya pengobatan, pendidikan ataupun hanya untuk sesuap nasi, klisenya mah untuk menutupi kebutuhan ekonomi) ataupun karena tuntutan gaya hidup dan gengsi semata.

Oke deh, dalam rangka Amar Ma’ruf Nahi Munkar, kita sharing aja. Jika meruntut sejarah, setelah Rosul mendirikan Mesjid Nabawi yang didirikan Rosul adalah pasar, disini dapat kita ambil pelajaran, bahwa selain dituntut beribadah kita juga diajarkan berniaga. Sederhananya ya, mencari penghidupan (cari duit) untuk urusan dunia.

Selain itu, ada juga hadist yang menyatakan,” Beribadahlah engkau seakan-akan besok akan mati, dan bekerjalah kamu seakan-akan engkau hidup 1000 tahun lagi.” Ini sebuah pernyataan yang proporsional dimana hidup kita diabdikan untuk beribadah dengan sungguh-sungguh dan pula diabdikan untuk bekerja sungguh-sungguh, dalam upaya memperoleh penghidupan dunia dan akhirat.

Manfaat memperoleh harta adalah guna melakukan ibadah-ibadah yang membutuhkan pengorbanan biaya, seperti: zakat, infaq, sedekah, qurban, haji dan umroh. Secara sederhana, harta berguna untuk keperluan Hablu Minnaallah dan Hablu Minnannas. Dalam konteks ekonomi modern, kapitalis, maka yang dibutuhkan adalah duit. Mulai dari kita lahir, balita, batita, remaja, dewasa, hingga kita matipun, uang selalu merongrong kita untuk membiaya semua kebutuhan hidup dan mati kita.

Waduh….kapitalis, kapitalis….

Secara sosial, bukankah kita secara pribadi maupun kelompok bertanggung jawab terhadap pemberdayaan ekonomi ummat??? Ajaran untuk zakat, infaq dan sedekah bukan hanya memerintah kita untuk memberikan sebagian rejeki kita kepada mustahik, tetapi sebaiknya adalah bagaimana kita selain memberikan rejeki kita kepada mustahik, kita juga harus memberikan/menyedekahkan seuatu yang lain yaitu ilmu berniaga (Uttubul Ilmi Walau Ayah) sehingga lama-kelaman kemiskinan bisa kita berantas bersama-sama.

Akhir kata, menjadi miskin tidak salah, tetapi harus sama-sama kita sadari, bukan itu yang diperintahkan oleh Allah…Mari bersama-sama kita hadapi takdir kita, apapun itu, kaya ataupun miskin, syukuri, berusaha meraih dunia dan akhirat seperti dalam setiap akhir setiap doa kita Robbana Attina Fiddunya Hasanah Wafil Akhiroti Hasanah Waqina Adza Bannar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: