ADB Trust Me

null

 Alhamdulillahhh….akhirnya dapat kerja juga…begitu jerit hatiku berkumandang. Maklum bekal akademik ku tidak begitu bagus, Nih buktinya, SMA saja kuselesaikan dengan prestasi yang sangat buagusss, huahahaha,,,gimana tidak, peringkat pertama dari belakang. Dan Alhamdulillah, tidak ada persyaratan NEM minimum ketika aku sekolah dulu, sehingga aku lulus…Lulus euy….Alhamdulillah.
1993
Nah, sekarang persiapan untuk UMPTN nih, dengan PD-nya aku pilih IPA dengan target masuk ke ITB, dan pilihannya pun tidak tanggung-tanggung Teknik Industri utk pilihan pertama dan Teknik Mesin utk pilihan kedua. Dan hasilnya….sudah dapat diduga….gagal….hehehehe….. Kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda, katanya sih….Ya udah deh kita pegang tuh filosofi, pulanglah aku ke Medan utk mengajukan proposal ke ADB guna memperoleh dana tinggal selama setahun di Bandung utk Bimbel dan Kost. O ya, pada UMPTN tersebut diatas, aku tidak mengambil ujian masuk ke perguruan tinggi swasta manapun…Uhhh PD banget sih….

Singkat cerita, akhirnya pihak ADB menyetujui proposalku tersebut. Alhamdulillahhhh…

1994

1 tahun Bimbel, akhirnya masa UMPTN tiba, perasaanku aku bisa deh, tapi mungkin aku hanya GR aja kaleee…Cape dee…Aku juga ambil IPA tuh, dan targetnya juga masih sama. Cuma bedanya kali ini aku ambil juga test di beberapa perguruan tinggi swasta di kota Bandung. Cadangan bo’….gila apa, mau nganggur lagi???? Hasilnya adalah: UMPTN gagal, tapi dapet sekolah…Lumayanlah di Itenas di Jurusan Teknik Industri. Alhamdulillah….

1994-1999

Masa-masa kuliahpun dilalui dengan berbagai warna, sampai saking PD nya, sempat terucap dan menjadi visi dalam mengarungi masa perkuliahan,”Masuk kuliah ngak penting, yang penting kita copy bahan kuliah (diktat), contoh soal dan bertanya pada teman yang rajin masuk kuliah.” Kacauuu….Pasti lagi kerasukan setan nih diriku. O ya, tapi lumayanlah, aku cukup tenar disana (huahahaha…PD abis), maklum sering nongkrong dikantin, punya mobil ajaib, dan aktif dikegiatan mahasiswa termasuk penggerak demo, sampai2 kelulusanku ditunda karena mecahin kaca rektorat….awalnya mau langsung di DO tuh, berkat loby-loby dan dukungan dari teman2 mahasiwa, akhirnya Yudisiumku hanya dipending 6 bln. Alhamdulillah…Lulus juga akhirnya…Dan selain mendapat ijazah, aku juga mendapat calon istri (sekarang jadi istriku lho…) yang baeeeeeekkkkk buangeeeeet. O ya, IPK ku pun dibawah standar guna mencari kerja, yang biasanya mensyaratkan IPK diatas 2 koma sekian itu….Hmmm… 

O ya, pada masa skorsing tersebut, aku mengajukan proposal lagi ke ADB, utk melanjutkan study ke UGM mengambil Management, singkat kata, proposalku diterima lagi. Plus biaya persiapan TOEFL, dan ternyata biaya prepation TOEFL tuh mahal ya…hehehe….Padahal waktu itu aku hanya ada dana yang minim, tapi berkat referensi dari pacarku (sekarang istriku) aku ambil les bahasa inggris biasa, disebuah lembaga les yang murah meriah. Mimpi lagi nih…kan orang2 sejagad raya pun tahu aku ini ngak bisa bahasa Inggris. Ah, sebodo’ amat sama image yg telah melekat pada diriku, yg penting PD…Bismillah.

2000-2001

Trauma kegagalan ujian masuk ITB membekas dalam hatiku ketika akan memasuki ujian penerimaan di UGM, testnya ada banyak lagi, TPA (Test Potensi Akademik), TOEFL dan Test Akademis di Bidang Managemen, belum cukup tuh, ada sesi wawancara pula menghadang dihadapan. Hehehehe….Bismillah, kujalani Test TPA dgn bekal belajar dati buku2 TPA yg banyak dijual dipasaran, kursus bahasa Inggris selama 3 bln serta baca-baca buku management. Wah,wah, wah…..nekad banget yak… Jalani aja, Bismillah.

Singkat cerita, akhirnya aku lolos dan diterima….Alhamdulillah.

Masa perkuliahan dimulai, ya kita saling berkenalan deh, waduh, latar belakang pendidikan mereka buagus-buagus….baik institusinya maupun IPK mereka….Keder, tapi biasa, aku tetap PD…. 

Ternyata o ternyata, aku bisa mengikuti perkuliahan dengan baik, bahkan outstanding disana…How come…..ya berkat ADB dong…Hmmm…mau nyombong boleh kan, aku ngambil Finance (yg notabene ditakuti tuh…), lulus dalam 13 bulan dengan IPK diatas 3,5 ….Alhamdulillah.

Akhir cerita, jasa yang terbesar adalah ADB yang percaya kepada seorang aku yang banyak mengalami kegagalan ini serta mengikuti proses dengan sabar (kuliah ya harus ikut kuliah, jangan mabal atau mbolos, trus di rumah ya belajar, jangan maen kartu…hehehe). Oya, ADB disni bukan Asian Development Bank tetapi Ayah Dan Bunda

Salam hormat dari anakmu ini.

 

 

 

 

2 Tanggapan

  1. aduh seru sekali ceritanya, lanjutin ke seri ke-2 donk, story di Jokja atau stroy pas ngelamar istri hehhehe….
    congrats ya dan sukses selalu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: