Lebaran 1429 H

Tak terasa Romadon meninggalkan kita dengan cepat, ada perasaan plong, senang, ragu dan gamang.

Apa iya kemaren kita sudah melaksanakan perintah Allah dengan sebaik-baiknya, apakah sudah optimal dan maksimal ibadah yang kita jalankan, apakan sudah benar dan sesuai syariah ibadah yang kita lakukan, apakah ibadah kita diterima disisi Nya, apakah kita akan berjumpa dengan Romadon tahun depan atau malahan kita sudah berada disisi Nya sebelum semua pertanyaan diatas terjawab.

Alkisah ada seorang eksekutif muda (esmud) dan seorang papa, sang esmud adalah pria berumur 30-an tahun, lulusan perguruan tinggi dari negerinya Mc.D, memiliki istri mantan bintang film panas era 90-an dan sekarang telah dikaruniai sepasang anak yang masih balita. Sang esmud bekerja diperusahaan Multi National Company, dan berada pada posisi Manager Madya, sedangkan si papa adalah pria berumur 30-an tahun, hanya lulusan SD dan bekerja serabutan, kadang sebagai tukang ojek, sopir angkot ataupun tukang bangunan, dia memiliki istri yang berprofesi sebagai pembantu rumah tangga dan sekarang telah dikaruniai sepasang anak yang masih balita. Baik sang esmud maupun si papa berkarier dan hidup di Jakarta.

Menyambut lebaran sang esmud sudah mengambil cuti tambahan sehingga dia mulai libur lebaran sejak tanggal 27 September 2008 dan masuk kerja pada tanggal 13 Oktober 2008, menyiapkan mobil agar dalam kondisi prima, dan tidak lupa menyiapkan zakat fitrah dan zakat mal untuk para mustahik, serta parcel dan ampau untuk sanak saudara dikampung halaman. Selain itu dia juga menyiapkan rencana reuni kecil dengan teman masa kecil nya. Selain itu, semua pernak pernik kecil, seperti pakaian baru, HP baru, jam baru, dan aksesoris lainnya dipersiapkan dengan seksama sehingga penampilan kala lebaran akan benar-benar baru.

Kontras dengan sang esmud, si papa, menyambut lebaran dengan hanya mengharapkan ada uang lebih untuk makan kala lebaran tiba, konon pada saat lebaran, Jakarta sepi, orang yang berdagang sedikit, sehingga harga-harga makanan pada melambung tinggi. Tidak tampak euphoria di keluarga si papa kala menyambut lebaran, impian untuk mudik dan bersilaturahmi dengan keluarga dikampung halaman enggan muncul dibenak si papa, yang muncul adalah persiapan menghadapi hidup kala berlebaran di Jakarta dan suntikan dana dari para muzzaki. Tak lupa si papa menyiapkan sulaman-sulaman baru pada baju mereka dan anak-anak mereka yang sedikit lapuk di makan usia. Mereka menyambut lebaran dengan haru.

Entah apa arti kehidupan, status sosial, problema dan kesenangan hidup kita di kala lebaran, tetapi semua itu adalah karunia Allah dengan soal ujian yang berbeda yang pasti sesuai dengan kemampuan para peserta ujian tersebut.

Satu Tanggapan

  1. مبروك عليكم العيد ان شاء الله

    SELAMAT IDUL FITRI, Insya Allah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: