Krisis Ekonomi 2008: Hostile Take Over & Leverage Buyout ancam Indonesia

Sedihhhh, nasib negara kita yang merupakan salah satu negara penghutang terbesar (peringkat 30 dunia dengan total hutang sebesar $130,4 Trilyun (sumber: baca disini)dan diperparah dengan tingkat kepercayaan terhadap rupiah yang rendah, sehingga terpaksa kita mem-pledge kan semua hutang atau transaksi bisnis dalam US Dollar. Celakanya lagi semua hutang tersebut digunakan untuk kepentingan segelintir orang saja (maaf agak men-judge nih), yang nantinya ujung-ujungnya kredit macet/bermasalah lagi…semoga tidak ya…Amien.

Ditambah lagi, kapitalisasi pasar saham Indonesia yang terbilang kecil, sehingga dengan adanya sedikit goncangan di bursa saham international dampaknya terhadap bursa Indonesia sangat terasa, sehingga akhirnya BEI ditutup pada hari Kamis, 9 Oktober 2008, setelah IHSG terkoreksi cukup dalam, 10% lebih. Sedang pasar international maksimal hanya terkoreksi sebesar 5%. Hal ini wajar terjadi karena sebagian besar investor saham BEI adalah investor asing yang mereka juga pada saat terjadi krisis ekonomi sekarang membutuhkan cash money, sehingga bersedia menjual saham-saham mereka dalam kondisi discount, dimana kondisi discount ini terjadi karena banyaknya investor (dalam saat yg bersamaan) ingin menjual saham mereka, sehingga posisi supply lebih besar dari posisi demand.

Ancaman Hostile Take Over pelan tapi pasti akan menjadi PR bagi pemilik perusahaan yang meng-agunkan sahamnya atas hutang yang mereka punyai.  Dengan kondisi harga saham yang terkorelsi cukup dalam, sehingga nilai agunan yang tadinya cukup menjadi tidak cukup lagi, sehingga pihak kreditor bisa melakukan akuisisi paksa terhadap debitor dengan alasan tersebut.

Untuk mencegah Hostile Take Over yang mengakibatkan perusahaan berpindah tangan menjadi milik asing, pemerintah bisa mengambil langkah Leverage Buyout guna menasionalisasi perusahaan-perusahaan yang menguasai hajat hidup orang banyak, seperti saham-saham di sektor pertambangan, agro bisnis dan telekomunikasi. Jangan keduluan sama investor asing. Hehehehe….ayo siapa yang cepet dia dapet lho…

Sehingga langkah pemerintah mensuspend BEI adalah langkah terburu-buru, ketakutan, tidak PD dan bukan langkah strategis. Semestinya biarlah pasar yang menentukan harga dari suatu saham, kalo memang harganya jatuh ya sudah ambil aja (Government Action) atau buy back (Corporate Action), atau sekalian nasionalisasi saja, sehingga asset negara kita tambah banyak. Bukan dengan mem-freeze, rapat dulu, berpikir dulu baru bertindak, hendaknya semua itu harus simultan jangan ada korupsi waktu dengan jalan mem-freeze (suspend BEI) dan melontarkan issue investor nakal dan lain sebagainya. Mari kita sama-sama dewasa, jujur dan berbisnis dengan komitmen penuh. (Baca juga refleksi mengenai penggunaan uang orang lain, Others People Money)

6 Tanggapan

  1. Apapun istilahnya, Saya tidak pernah bisa mengerti keruwetan dunia bursa saham. Dan mungkin saya memang terlalu malas dan kampungan buat mengerti skema permainan yang terjadi di dalamnya. Akhirnya hal ini akan selalu menjadi ghaib untuk saya, karena tidak kunjung bisa saya mengerti.

    Dalam pandangan saya, hal ini pada akhirnya hanya menjadi simbol kerakusan manusia yang tak pernah puas akan profitabilitas finansial.

    Karena sebagus apapun kondisi IHSG maupun instrumen-instrumen derivatif lainnya, saya belum pernah bisa menemukan korelasinya yang nyata terhadap perbaikan kualitas hidup rakyat Indonesia, yang agendanya dari tahun ke tahun hanya lah selalu untuk survive dan survive.

    Saya pikir untuk sekedar menjadi modern dalam era globalisasi ini akhirnya Indonesia harus menemukan caranya sendiri untuk membentuk jati dirinya, tanpa harus ikut terjebak dalam permainan-permainan kapitalistik.

    Karakter bangsa yang baik dan kuat mungkin menjadi kata kuncinya.

  2. Menurut jabir; “Rasulullah s.a.w. melarang penjualan buah-buahan sebelum ia masak.” (Hadis riwayat Bukhari).
    Jadi suatu jual beli itu harus jelas barangnya, kondisi barangnya dan nilainya harus jelas, sehingga aksi jual beli tidak ada unsur spekulatif didalamnya.
    Saham dan derivatifnya tidak ada kaitannya (secara langsung) dengan sektor real, sehingga menimbulkan efek2 bias seperti buble economic dsb.
    Mungkin perlu kita telaah suatu format ekonomi dan perdagangan yang mengacu kepada Karakter Keimanan yang Haq.

  3. Hehehe…

    Karakter Budhi-nya keluar nih…🙂
    I’m glad we’ve still got the same thought, bud.

    Buat yang satu frekuensi mungkin penjelasan halal dan haram sudah jauh lebih dari cukup.

    Tapi, ya kalo gue pikir sih, kita, umat islam, harus mampu memberikan penjelasan komperehensif mengenai manfaat dan mudharat dari apa yang diusung oleh sistem ekonomi islam, tanpa menekankan dan memperlihatkan dengan stempel besar-besar bahwa “Ini sistem Islam”.

    Sering terharu dan merasa tercerahkan kalo mendengar penjelasan-penjelasan dari pakar ekonomi islam, Syafii Antonio. Sederhana lugas, tapi mengena.

    Kalo gue ambil analogi syiarnya Rasulullah, ada kalanya ketika resistansi masyarakat tentang value Islam masih cukup besar, syiar harus dilakukan secara diam-diam, halus, tapi menyentuh akar permasalahan.

    Dalam hal ini, realistisnya, orang yang harus melakukan syiar mengenai intrumen-instrumen kapitalis ini adalah orang-orang dengan value islam yang kuat tapi mengerti benar tentang mekanisme jual beli saham, forex, option dan lain sebagainya. So, what are you waiting for, my friend…?🙂

    http://www.mail-archive.com/media-dakwah@yahoogroups.com/msg00071.html

  4. Gue jadi inget sesuatu setelah baca artikel yang linknya gue sebutin di atas.

    Dekan MBA ITB, pak Surna Cahya, pada pembukaan mata kuliah Business Ethic selalu memutarkan film Wall Street-nya Charlie Sheen di kelas manapun. Setelah itu kita rame-rame diberi tugas buat bikin paper tentang the moral of the stories yang bisa kita tangkep di dalemnya.

    Diskusinya selalu jadi rame ketika mahasiswa-mahasiswa yang beragama islam mengangkat haram-nya jual beli saham hanya berdasarkan our point of view, sementara yang gak peduli sama value islam gak bisa menerima pendapat atas dasar halal dan haram ini. Selalu jadi debat kusir, no solution at all.

    Got the point…?🙂

  5. hmm…

    kebetulan saya dapat tugas ekonomi..
    pertanyaannya apa alasan PT. A meng – take over PT. B..

    dari wacana di atas saya belum bisa menarik kesimpulan…

    • Take Over dilakukan karena ada beberapa sebab, dan 2 besarnya adalah:
      1. Harga Discount (murah), hal ini bisa dkarenakan berbagai sebab, seperti dalam mekanisme Hostile Take Over.
      2. Prospek Bisnis perusahaan yang akan diambil, prospek bisnis bisa bermacam2, bukannya hanya prospek bisnis yang sekarang sedang berjalan, tetapi juga bisa datang dari keandalan perusahaan dalam beberapa sektor, semisal Distribusi dan Birokrasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: