Makna Idul Adha

Kemaren, Senin, 8 Desember 2008, perhelatan akbar mengenang, menteladani dan menjalankan salah satu contoh bagi kita semua makhluk dimuka bumi, tentang arti dan makna taqwa kepada Allah, hal ini di-ejawantahkan pada kejadian dimana dengan tulus ihlas Nabi Ibrahim AS menjalankan perintah Allah untuk mengorbankan puteranya yang terkasih, Ismail AS. Anak yang dengan asa yang tak terhingga ditunggu-tunggu kelahirannya didunia.

Perhelatan tersebut bisa jadi tonggak persatuan bagi kita semua, pemeluk agama Samawi, yang dibawa Nabi Muhammad SAW(Islam), Nabi Musa AS (Yahudi), dan Nabi Isa AS(Nasrani), yang secara historis adalah cucu dari ajaran “Monoteisme” yang dibawa oleh Nabi Ibrahim AS, mari bersatu dan jangan saling ejek, hujat atau mem-provokasi dan meng-agitasi untuk menjatuhkan, membinasakan atau hanya demi merebut market share.

Hubungannya apa antara Kurban dan Kerukunan Hidup Antar Umat Beragama, Kurban salah satunya mengajarkan keikhlasan, dimana kita harus iklas secara menyeluruh, entah itu spiritual, intelektual dan emotional.

Spiritual, yakinlah apa yang kita yakini selama ini jangan suka ngegosipin tetangga atau jangan sirik dengan tetangga atau jangan ajak-ajak tetangga untuk ikut-ikutan kita, kecuali sama sesama atau dalam satu segment pasar yang sama, itu malah dianjurkan. Sebaiknya kita makin dalam mendalami apa yang kita yakini, cari dan terus mencari, gali dan terus menggali, beramal dan terus beramal tanpa pandang bulu.

Intelektual, yakinlah apa yang telah kita terima adalah yang terbaik bagi kita, jangan ukur semua dengan nominal, karena senyatanya bukanlah nominal yang menentukan kita sebagai manusia. Tetapi ketakwaan lah yang menjadi ukuran kita dimata Tuhan. Didunia ini memang sulit menemukan keadilan, sehingga kadang-kadang seseorang terpaksa Puasa Jabatan serta Kurban Perasaan. Karena banyak kejadian yang ngak masuk diakal terjadi didunia. Yang harusnya kaya jadi miskin, yang harusnya miskin jadi kaya, yang pintar jadi bodoh, yang bodoh jadi pintar. Dan masi banyak keanehan dan keganjilan yang harus kita terima dan ditolak oleh akal pikiran kita.

Emotional, ternyata kita harus bisa mengontrol semua itu dengan emosi, “dikontrol jeng…dikontrol” demikian kata Cut Mini pada iklan suatu produk di TV. Pengendalian diri adalah kunci kesuksesan kita di dunia dan akhirat. Tuntun emosi dengan Intelektualitas dan Spiritualitas, Insya Allah bisa menjadikan kita lebih baik.

Sudahkah kita bisa legowo menerima kenyataan hidup baik secara spiritual, intelektual dan emotional? Sulit dan teramat sulit, terkadang kita terjebak pada ego sempit dalam hal membela Agama, padahal Agama tidak untuk dibela dan mungkin tidak perlu dibela (sampai tahap tertentu) yang menjadi prioritas adalah mempelajari, menghayati dan mengamalkannya. Atau kita terjebak pada nilai kapitalis mengenai kesuksesan kita sebagai manusia???

Monggo sadulur…

“ber-AGAMA-lah dengan IKHLAS”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: