Mengucapkan Selamat

Setiap hari pasti kita mengucapkan kata Selamat kepada seseorang ataupun sekelompok orang, baik dalam pertemuan formal, informal maupun untuk keperluan basa-basi semata. Pagi hari ketika hendak pergi kekantor, kita ucapkan Assalamu Alaikum Wr.Wb. kepada keluarga, sesampai kantor kita ucapkan Assalamu Alaikum Wr.Wb. kepada rekan kantor yang seiman, dan mengucapkan selamat pagi kepada rekan kantor lainnya. Kebiasaan ini aku lakukan setiap hari, dengan berbagai alasan, yang intinya mendoakan dan ingin didoakan kembali agar selalu mendapatkan keselamatan dan rahmat dari Allah.

Sederhana, tapi menjadi tidak sederhana ketika si-Selamat ini memasuki atau terbentur tataran ideologi dan keyakinan, si-Selamat yang pada dasarnya barang halal dan toyib menjadi barang terlarang dan haram. Terkadang karena kita merasa orang yang patut atau layak, menurut pendapat umum, mendapat ucapan selamat adalah rekan kerja, atasan ataupun bawahan kita, sahabat, orang tua atau yang dituakan, ada perasaan ngak enak, sungkan, takut dia marah, kecewa, dan takut tidak dianggap toleran atau bahkan dianggap pengikut aliran garis keras. Terjadilah perang batin dalam diri kita, maju mundur, hingga akhirnya muncul pembenaran atau pembelaan,”Ngak ada salahnya jugakan kita memberi ucapan Selamat.” Secara naluri manusia terkesan ngak ada salahnya, tetapi secara akhlak dan aqidah salah.

Contoh, hanya analogi semata,”Misal Bos kita menang tender, dengan cara yang tidak jujur, semua hal dilakukan seperti menyogok (under table), mengatur dan mengunci spec, dan mengentertaint orang-orang kunci dan sebagainya, dan hasilnya, bos kita menang tender.” Apakah layak kita mengucapkan selamat kepada beliau??? Layak secara akhlak dan aqidah, biasanya kita akan basa-basi mengucapkan Selamat kepada bos kita, demi sebuah arti pertemanan dan profesionalisme. Atau, analogi yang lainnya lagi,”Misal, ada teman kita yang nikah tapi nikahnya MBA (Married By Accident), kecelakaan, trus kita diundang,” apa yang harus kita lakukan, jelas-jelas dia telah berbuat salah, tapi karena ngak enak, kita juga mengucapkan Selamat kepada teman kita tersebut.

Karena kita banyak ngak enak sama orang dan ingin selalu menyenangkan orang lain, membuat kita menjadi permisif dan nyantai menanggapi hal-hal yang crusial tapi terlihat sepele, yang sebenarnya tidak sepele. Jadi sebaiknya kita teliti dulu, apakah arti sebuah perayaan bagi yang merayakan, bukan apa yang hanya terlihat dipermukaan. Apalagi kalo menyangkut perayaan agama, coba kita menggali dan mencari tahu, apa makna dibalik perayaan yang mereka langsungkan, jika bertentangan dengan aqidah kita, maka janganlah ucapkan selamat. Karena hal itu mengandung arti yang sangat dalam, yaitu, kita menyetujui dan mengamini serta memberikan doa selamat atas apa yang mereka rayakan.

“Selamat Hari Selasa Sadulurku”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: