Kenapa Tidak Dukung Palestina

busung-laparCerita diwarung kopi, 4 blok dari rumahku, di Barat Ibukota Negara RI, Jakarta. Pada pukul 8 malam, Januari 2009, dibawah temaram lampu petromax, dalam program penghematan, begitu kata pemilik warung. Cak Bud begitulah dia biasa dipanggil. Tampak ada tiga pengunjung yang sepertinya sudah sering kongkow-kongkow disana, mereka membahas topik hangat tentang memanasnya Gaza.

Berkata Bung Teing, kenapa kok kita meributkan Palestina, Israel serta Jalur Gaza. Kenapa kok kita begitu peduli, kenapa kok kita begitu menggebu-gebu unjuk sikap, unjuk duit, unjuk keberanian dan kesaktian, kenapa seolah-olah kita berubah menjadi manusia-manusia yang memiliki empathi tinggi, rasa kemanusian tinggi, rasa sosial tinggi. rasa perdamaian tinggi, rasa keadilan dan persaudaraan yang tinggi. Sehingga rela mengorbankan harta benda, jiwa raga dan meninggalkan orang terkasih kita.

Bang Angan nyeletuk, dengan berbagai argument sejarah masa lalu dan analisa politik kontemporer yang membuat pendengarnya terkesima dan terbelalak. Karena tiba-tiba Bang Topan yang sehari-harinya kerjanya ngurusin angka-angka penjualan mendadak sontak bermethamorfosis menjadi ahli sejarah yang mumpuni.

Kang Kumaha sepertinya agak pusing mendengar diskusi yang mulai berat, pundaknya bukanlah pundak seorang lifter yang sanggup menanggung beban ratusan kilo, pundaknya hanyalah pundak seorang manusia biasa yang hanya sanggup menanggung beban sehari-hari saja, beban kehidupan orang kebanyakan. Ah kalian ini kok ngurusin hal-hal yang melanglang jauh diakal dan fikirku. Begitu Kang Kumaha berkata.

Lalu tiba-tiba, Cak Bud, sang pemilik warung kopi membuka laptopnya, dan membuka sebuah file lalu menunjukkan kepada ke tiga pengunjung warung kopinya. Berikut petikan isi file tersebut:

Disebuah desa nun jauh disana, tampak beberapa anak kecil yang terkulai lemas tak berdaya, dengan wajah pucat dan perut gendut. O…lemas karena kekenyangan mungkin…tidak…mereka terserang busung lapar, kurang gizi. Ah, mungkin salah liat kali…atau mungkin bermimpi kali…la wong jaman sudah modern, gedung-gedung pencakar langit sudah berdiri dimana-mana…mobil-mobil mewah banyak berseliweran dijalan, internet sudah menjadi sarapan sehari-hari, bahkan ketika nongkrong di kamar mandi pun ada yang enggan melepas Blackberry dari genggaman. Mau makan siang dikantor juga bingung, mau fast food, traditional food, mau di warung tenda atau di mall, susah terkadang kita menentukan apa yang akan kita makan dan dimana kita akan makan. Tapi busung lapar masih ada…

Berikut petikan dari TempoInteraktif.com, Minggu, 16 Maret 2008 | 17:03 WIB, sampai dengan pekan ini, jumlah balita dan anak-anak penderita gizi sekitar 90 ribu jiwa, yang terdiri dari penderita gizi buruk dengan kelainan klinis (busung lapar) 83 orang, gizi buruk tanpa kelainan klinis 14 ribu orang dan gizi kurang sebanyak 71 ribu. Jumlah ini belum termasuk yang menetap di desa-desa terpencil dan sulit dijangkau. Untuk daerah yang dekat dengan Jakarta pun ada kok, berikut petikan dari TempoInteraktif.com, Jum’at, 14 April 2006 | 03:50 WIB, penyakit busung lapar (marasmus kwashiorkor) kini mengancam ribuan bayi berusia di bawah lima tahun di 26 kecamatan di Kabupaten Tangerang.

Ketiga pengunjung warung kopi tersebut kaget dan tersentak serta ngelangut dengan pikiran yang amburadul dan hati yang terhantam kromo. Nelongso…dalam kancah politik ideology dan internasional.

“Kumaha Angan??? Teing Bud!!!”

Satu Tanggapan

  1. Mas Bud,
    terus terang saya nggak paham mengenai perang Palestina, tapi yang saya tahu namanya perang pasti sipil yang jadi korban.
    adalah sepenuhnya menjadi kewajiban kita semua untuk menolong dari sisi kemanusiaan, selanjutnya terserah pribadi kita masing-masing apakah akan mengalokasikan “dana kemanusiaan” kita untuk saudara kita di kampung kita sendiri atau ke palestina sana…
    salam damai…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: